Oseanografi geologi (geological oceanography) adalah ilmu
yang mempelajari tentang konfigurasi cekungan laut , asal usul cekungan laut,
sifat batuan dan mineral yang dijumpai di dasar laut, dan berbagai proses
geologi di laut. Kata lain untuk menyebutkan oseanografi geologi adalah geologi
laut (marine geology).
Kehadiran lautan sebagaimana tampaknya sekarang ini tidak terlepas
dari proses pembentukan bumi. Kerak lautan merupakan bagian dari bumi, sehingga
asal usulnya maupun aspek-aspek daan proses-proses selanjutnya merupakan
rentetan proses alam yang bekerja hingga sekarang dan masih tetap berlangsung
terus.
1.1. Teori dan Analisa
tentang Asal Usul Lautan
1.1.1. Hipotesa
Pelepasan Lempeng
Kondisi ini bumi dalam keadaan tidak stabil karena pada bagian
dalamnya masih cair dan panas. Sehingga terciptalah kondisi mudah terjadi
peretakan-peretakan diantara dua lapisan yang berbeda fase. Terjadinya
peretakan-peretakan dalam waktu relatif lama, bumi tetap berputar dan bergerak
mengelilingi matahari, sehingga terjadilah pelepasan sebagian lapisan luar dari
bumi akibat adanya gaya lemparan (centrifugal) tidak seimbang dengan
gaya tarikan bumi (centripetal). Terlepasnya sebagian permukaan bumi
tersebut maka terbentuklah cekungan yang membentuk lautan.
Terisinya cekungan-cekungan di permukaan bumi oleh air daapat
dihubungkan dengan temperatur permukaan bumi, yang memungkinkan terjadinya
pengembunan gas-gas air (H2O). Saat itulah diduga terbentuknya
lautan dengan berbagai reaaksi kimia dan interaksi di dalamnya.
1.1.2. Teori Undasi
Van Bemmelen (1932-1935), menjelaskan bahwa permukaan bumi tidak
rata yaitu sebagian cekungan dan sebagian pegunungan, diakibatkan oleh
gelombang turun naik terhadap bagian bumi yang cair (magma). Timbulnya gerakan
gelombang tersebut merupakan pengaruh pemisahan magma dari yang basa ke asam
dan dari basa ke ultrabasa. Terdapat empat susunan magma yaitu asam,
intermediat, basa, dan ultrabasa.
1.1.3. Teori Tektonik
Lempeng
Menurut teori tektonik lempeng, seluruh kerak bumi dipandang
tersusun oleh beberapa lempengan besar yang bergerak seperti balok yang kaku di
atas permukaan bumi. Batas-batas lempeng adalah kawasan memiliki aktifitas
seikmik tinggi, yang terjadi karena pembentukan material kerak baru sepanjang
pematang tengah samudera, maupun karena material kerak yang tua tersubduksikan
di daerah palung. Dengan demikian, batas lempeng ditentukan oleh aktifitas
seismik.

Gambar
1.1. Peta pembagian lempeng-lempeng kerak bumi
a) Kontak divergen, yang disebut juga
dengan spreading center (pusat pemekaran). Pada kontak
ini, lithosphere yang baru terus menerus terbentuk karena dua
lempeng saling menjauh. Pembentukan cekungan laut terjadi pada kontak lempeng
jenis ini, seperti Samudera Atlantik. Kejadian yang dijumpai di daerah divergent yaitu
karena aktivitas vulkanisme laut; aktivitas gempa; perenggangan lempeng yang
disertai dengan tumbukan di kedua tepi lempeng; dan pembentukan tanggul dasar
samudra (mid ocean ridge).

Gambar
1.2. Perbatasaan Divergen
b) Kontak konvergen, terjadi bila dua lempeng
bergerak saling mendekat satu sama lain. Pada kontak konvergen salah satu
lempeng menyusup ke bagian bawah yang lain, yang dalam kasus ini kita sebut
subduction zone (zona penunjaman atau zona subduksi). Pada kontak ini dapat
terjadi dua lempeng saling benturan, yang disebut zona kolisi. Zona subduksi
adalah zona tempat lempeng samudera dikomsumsi, seperti Palung Jawa di sebelah
selatan Pulau Jawa. Sedangkan zona kolisi adalah zona tempat terbentuknya
kawasan pegunungunan, seperti Pegunungan Himalaya.
Di subduction zone (zona penunjaman atau zona
subduksi) terjadi beberapa fenomena antara lain:
2. Terbentuk
palung laut di tempat tumbukan,
3. Pembengkakan
tepi lempeng benua yang merupakan deretan pegunungan,
4. Terdapat
aktivitas vulkanisme, intrusi, dan ektrusi,
5. Daerah
hiposentrum gempa baik dangkal maupun dalam yang dapat menyebabkan terjadinya
gempa bumi tektonik dan gelombang tsunami,
6. Daerah
hiposentrum gempa baik dangkal maupun dalam yang dapat menyebabkan terjadinya
gempa bumi tektonik dan gelombang tsunami,
7. Penghancuran
lempeng akibat pergesekan lempeng, dan

Gambar
1.3. Lempeng yang saling Menumbuk

Gambar
1.4. Batas Konvergen
c) Kontak transform fault, terjadi bila dua
lempeng berpapasan satu sama lain dengan tepi-tepi lempeng yang saling
menggerus. Di daerah seperti itu terdapat aktivitas vulkanisme yang lemah dan
gempa yang tidak kuat. Gejala pergeseran itu tampak pada tanggul dasar samudra
yang tidak berkesinambungan, melainkan terputus-putus. Gempa bumi sering
terjadi di kontak lempeng jenis ini, contohnya kawasan sesar San Andreas.

Gambar
1.5. Dua Lempeng saling Berpapasan/Pergeseran Mendatar
1.2. Cekungan Samudera (Ocean
Basin)
Pada mulanya dipercaya bahwa permukaan dasar lautan itu datar dan
tidak mempunyai bentuk, tetapi ilmu-ilmu modern sekarang telah membuktikan
bahwa topografi dari dasar lautan adalah kompleks seperti daratan. Topografi
dasar laut yang kompleks di Indonesia disebabkan karena kawasan ini merupakan
pertemuan dari empat lempeng lithosfer, yaitu lempeng Eurasia,
lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Samudera Hindia-Australia.
a) Ridge dan Rise adalah suatu bentuk proes
peninggian yang terdapat di atas lautan (sea floor) yang hampir serupa dengan
adanya gunung-gunung di daratan. Pada prinsipnya tidak
ada perbedaan antara ridge dan rise. Keduanya hanya dapat dibedakan dari
letak kemiringan lerengnya saja. Ridge lerengnya lebih terjal
dari rise. Sebagai contoh, puncak-puncak dari sistem ridge di
tengah Atlantik mempunyai tinggi sekitar satu sampai empat kilometer di
atas lantai lautan dan sifat kemiringan rise dari dasar dengan lebar sekitar
1,500 sampai 2,000 kilometer. Rise di Pasifik Timur kurang datar dan
ini tampak seperti sebuah tonjolan rendah pada lantai lautan. Rise ini
mempunyai ketinggian sekitar dua sampai empat kilometer dari dasar mempunyai
lebar kira-kira 2,000 sampai 4,000 kilometer.
b) Trench adalah bagian laut yang terdalam berbentuk seperti saluran
yang seolah-olah terpisah sangat dalam yang terdpat di perbatasan antara benua
dengan kepulauan, dan biasanya mempunyai kedalaman yang sangat besar. Sebagai
contoh, sebagian dari Java Trench mempunyai kedalaman sebesar 7,700 meter.
c) Abbysal Plain, daerah ini relatif rata dari permukaan bumi yang
terdapat dibagian sisi yang mengarah kedaratan dari sistem mid oceanic
ridge.
d) Continental Island, Beberapa pulau seperti Greenland dan
Madagaskar menurut sifat Geologinyamerupakan bagian dari massa tanah daratan
benua besar yang kemudian terpisah. Daerah-daerah ini lapisan kerak buminya
terdiri dari batuan-batuan besi (granitic) yang jenisnya samadengan yang
terdapat di daratan benua.
e) Island Arc, Kumpulan pulau-pulau seperti kepulauan Indonesia juga mempunyai
perbatasan dengan benua, tetapi mereka mempunyai asal yang berbeda. Kepulauan
ini terdiri dari batuan-batuan vulkanik dan sisa-sisa sedimen pada bagian
permukaan kulit lautan.
f) Mid-Oceanic Volcanic Island, daerah ini terdiri banyak pulau-pulau kecil,
khususnya terdapat di Lautan Pasifik, dimana letk mereka sangat jauh dari massa
daratan.
g) Atol-Atol, daerah ini terdiri dari kumpulan pulau yang sebagian tenggelam
dibawah permukaan air. Batuan-batuan disini ditandai dengan adanya terumbu
karang yang terbentuk seperti cincin yang mengelilingi sebuah lagon yang
dangkal.
h) Seamount dan Guyot, merupakan gunung berapi yang muncul dari
dasar lauutan, tetapi tidak muncul sampai kepermukaan laut. Seamount mempunyai
lereng yang lebih curam dan puncaknya runcing (tinggi sekitar 1 km atau
lebih). Guyot mempunyai bentuk yang sama dengan seamount tetapi
pada bagian puncaknya datar.
.
.
.
Terima Kasih :)
Daftar Pustaka
Baharuddin., Hamdani.,
Nursalam., Dafiuddin Salim., Ira Puspita Dewi dan Ulil Amri. 2017. Bahan
Ajar Pengantar Oseanografi Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan
Kelautan Universitas Lambung Mangkurat. Ilmu Kelautan Universitas
Lambung Mangkurat.
Syuro W, Imam.
2012. Lempeng Benua. Diakses pada 30 Desember 2019 dari http://imamsyuhro.blogspot.com/2012/09/lempeng-benua.html.